Terima kasih, ya?

Lama tak menari jari-jemari ini di papan huruf komputerku ya nampaknya?

Yup, semenjak tulisan pertamaku memang belum ada niatanku untuk menulis lagi. Mengapa begitu? Yaaa, surprisingly tulisanku ternyata disambut dengan hangat oleh para pembaca dan penulis. Dari situ, aku banyak sekali dapat masukan berharga dari penulis-penulis senior, yang sangat-sangat menginspirasiku sebenarnya, salah satunya, ada seseorang yang mengatakan sebuah metafora tentang blog dan tulisan, begini kira-kira ucapnya “Layaknya sebuah rumah, kalau kamu ingin membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal, alangkah lebih baik kamu bangun rumah tersebut langsung dari bahan-bahan yang kokoh dan bagus, agar tahan lama dan indah, jangan sampai sudah ditempati tapi belum rapi, nanti susah kalau mau bangun ulang harus menata ulang perabotan rumah lagi”. Yang dimaksud oleh penulis tersebut adalah, anggaplah blogku ini adalah rumahnya dan tulisan-tulisanku adalah perabotan rumahnya. Aku ingin blogku ini rapi dan di desain ulang oleh orang yang memang paham betul bagaimana merapikan sebuah blog, sebelum tulisanku bertambah banyak dan semakin susah merapikan blogku ini jika sudah terlalu banyak kata yang tertuang.

Begitu kira-kira singkatnya mengapa aku belum mulai menulis lagi, dari kemarin aku sedang sibuk mencari seorang web designer hehe. Baiklah kembali ke tujuan tulisanku kali ini.

Tak terasa sudah tahun baru, lagi. Waktu memang kejam kalau sudah urusan mencuri detik, tiba-tiba sudah tahun baru lagi. Tiba-tiba sudah hari Senin lagi. Tiba-tiba waktu liburan sudah abis lagi. Tiba-tiba tagihan akhir bulan sudah keluar lagi. Tiba-tiba kita sudah bukan pasangan lagi. Tiba-tiba dia sudah punya doi baru lagi. Tiba-tiba aku sudah punya anak lagi. Tiba-tiba anakku sudah bukan anak-anak lagi. Tiba-tiba aku baru sadar bahwa waktuku sudah tidak banyak lagi. Begitulah mengejutkannya kata “tiba-tiba” di realita kehidupan. Karena waktu, aku sadar bahwa kita semua tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar dibuang sia-sia.

Sebenarnya tujuanku melancarkan tulisanku kali ini adalah hanya untuk menyampaikan banyak terima kasih untuk satu tahun penuh kenangan kemarin dan juga untuk menyampaikan harapan tahun baruku hehe.

Harapanku di tahun baru ini tidak lain dan tidak bukan adalah supaya kita semua mendapatkan kebahagiaan yang patut kita dapatkan. Jujur, setiap ulang tahunku, setiap tahun baru, ataupun waktu-waktu lainnya yang tepat untuk memanjatkan harapan, aku selalu berharap untuk kebahagiaan. Yup, kebahagiaanku, keluargaku, orang-orang di sekitarku, dan kebahagiaan kalian, orang-orang yang senantiasa mendukungku dari awal. Tidak pernah sekalipun aku memanjatkan harapan secara egois hanya untuk diriku sendiri. Entah kenapa.

Semoga di tahun ini, kalian yang sudah lama bertahan dan berjuang selama ini kembali bertahan dan berjuang.

Semoga di tahun ini, kalian yang belum menemukan jodoh akan segera dipertemukan dengan jodoh yang tepat dan baik.

Semoga di tahun ini, yang sedang mengharapkan kehadiran Sang Buah Hati akan segera diberikan momongan.

Semoga di tahun ini, yang sedang bingung bagaimana cara membayarkan hutang-piutangnya di masa lalu bisa terbayarkan hingga lunas.

Semoga di tahun ini, yang sedang menantikan kelulusan diberikan kelulusan dengan nilai yang memuaskan.

Semoga di tahun ini, yang sedang gundah harus mengakhiri hubungan tidak sehat segera mendapatkan kekuatan untuk pergi.

Semoga di tahun ini, kamu yang sedang menginginkan kenaikan pangkat atau jabatan segera mendapatkan posisi terbaik.

Semoga di tahun ini, rindumu dengan orang-orang tersayang yang sudah tiada bisa terbalaskan dengan apapun itu caranya.

Semoga di tahun ini, hubunganmu orang tuamu bisa menjadi lebih dari apa yang kita sebut baik-baik saja.

Semoga di tahun ini, hal-hal apapun yang berusaha kamu jauhi di tahun lalu berhasil kamu jauhi.

Semoga di tahun ini, banyak rezeki yang datang kepadamu dengan cara-cara yang tak kamu duga.

Semoga di tahun ini, keinginanmu untuk menikah tercapai!

Semoga di tahun ini, kamu yang sedang berjuang untuk melepas kecanduanmu terhadap hal duniawi yang tidak baik segera lepas.

Semoga di tahun ini, segala keraguan akan terjawab dengan kebahagiaan.

Semoga di tahun ini, tidak ada lagi terucap kata ‘Aku lelah. Aku menyerah.’ dan digantikan dengan kata ‘Ah gini doang rintangannya? Aku bisa, aku kuat!’.

Semoga di tahun ini, segala hati yang patah akan kembali bangkit dan bersinar.

Semoga di tahun ini, semesta akan mendekatkan kalian kepada yang jauh.

Semoga di tahun ini, lebih banyak pertemuan daripada perpisahan.

Semoga di tahun ini, jiwa-jiwa yang lelah kembali menemukan tujuannya untuk terus berjuang dan berkarya.

Semoga di tahun ini, semua yang pernah menjadi musuh akan kembali menjadi teman.

Semoga di tahun ini, semua perasaan sakit hatimu akan terbayarkan dengan segala perasaan suka cita dan hal-hal baik lainnya.

Semoga di tahun ini, yang sedang berjuang melawan penyakit yang kejam diberikan kekuatan untuk percaya dan bertahan, serta diberikan kesembuhan.

Semoga di tahun ini, bagi para ayah dan ibu di luar sana diberikan ketabahan dan kesabaran, selalu, dalam menghadapi anak-anaknya yang nakal hehe.

Semoga di tahun ini, para ayah dan ibu bisa mengerti bahwa anaknya tidak perlu lagi dikurung dan dituntun ke jalan kesuksesan, kita bisa sukses dengan jalan kita sendiri kok Yah, Bu hehe.

Semoga di tahun ini, para guru-guru yang tidak dianggap jasanya bisa terbalaskan dengan cara yang luar biasa hebatnya.

Semoga di tahun ini, para dokter-dokter bisa menyelamatkan banyak nyawa dan kembali menjadi pahlawan bagi mereka yang membutuhkan.

Semoga di tahun ini, dijauhkan hati kita dari pikiran kotor untuk korupsi atau mengkhianati bangsa ini.

Semoga di tahun ini, lebih banyak cinta daripada dengki.

Semoga di tahun ini, kamu akan dipertemukan dengan apapun itu yang akan menjadi alasan untuk kamu tetap dan terus bertahan, kalau bisa, selamanya ya?

Dan banyak semoga lainnya yang baik-baik untuk tahun ini.

Terima kasih aku ucapkan untuk kalian semua yang sudah bertahan hingga detik ini. Aku cuma ingin menyampaikan dari lubuk hati yang terdalam dan dengan niat yang paling tulus, “Kamu hebat.” Jangan pernah lagi ya berpikiran untuk menyerah? Lihat kebelakang, banyak sekali yang sudah kamu lalui, banyak sekali pelajaran berharga yang kamu pelajari, banyak sekali orang yang kamu bahagiakan, banyak sekali kebaikan-kebaikan lainnya yang sudah kamu lakukan.

Terima kasih, ya? Sudah mau dan bisa bertahan sampai di titik ini.

Kamu hebat. Kamu benar-benar hebat. You should be proud of yourself.

Alangkah lebih baiknya semua doa baik ditutup dengan, Aamiin aamiin ya rabbal’alamin.

This is Karin Novilda logging off. Selamat Tahun Baru!

PS: Segala ‘Semoga’ lainnya boleh kalian tambahkan di kolom komentar! Terima kasih sudah membaca ❤

Who is Karin Novilda?

Hi! So this will be my first writing! *yaaaay*

Karena gue tau market gue rata-rata teenagers, biar asik gue ngetiknya pake bahasa aja ya gez. Biar bisa dipahami semua orang juga, karena blog gue ini emang nggak diperuntukan buat professional writings juga. Hanya untuk menuangkan pikiran dan cerita-cerita menarik lainnya yang mungkin akan kalian suka. Tapi paling bakal bilingual juga sih he he he.

First of all, gue mau memperkenalkan diri gue sebagai Karin Novilda. I don’t really know where to start, but maybe I can start with my family background. Anggeplah tulisan pertama gue ini buat jadi perkenalan kita. So, gue sekarang berumur 22 tahun (huh I wish I could be forever 21) dan sedang menjalani karir di dunia per-influencer-an dan juga adalah CEO dan owner dari 4 start-ups yang sedang gue rintis. Keluarga gue mostly adalah dokter. Gue dateng dari background keluarga yang ‘alhamdulillah’ berkecukupan dan sederhana. Kedua orang tua gue dokter. My dad is an opthalmologists. And my mom is a dentist. Both of my grandma and granddad are professors. And most of my family are all doctors as well.

Phew… what a family, right? Kebayang gak, dengan semua title yang keluarga gue sandang, beban guenya gimana wkwk. Yang mungkin background keluarganya dokter pasti pahamlah tekanannya gimana. Mereka mengharapkan anak mereka bakal jadi dokter juga untuk nerusin mereka. Dan yap benar, both of my parents were demanding me to be a doctor, of course. Jadi dari kecil emang didikan gue udah ke arah sana, buat jadi dokter. Dari kecil gue udah masuk kelas IPA dan sering mengikuti banyak kegiatan sekolah yang berhubungan dengan intelektual sains. Gue juga sering mengikuti olimpiade sains dan juga matematika. Mungkin kalian juga pernah denger kalo gue dulu adalah salah satu murid berprestasi yang menyandang gelar peraih UN tertinggi se-provinsi. HA HA dan itu bener kok! Pure dari usaha dan belajar gue over years tanpa contekan hehe.

Nah, dengan didikan dokter tadi, ngebuat gue jadi tahan banting pagi, siang, sore, malem buat belajar dan terus belajar haha. Makanya mungkin terlihat gue orangnya selalu haus, haus akan pengalaman dan ilmu pengetahuan. Belum lagi didikan Ayah gue yang adalah seorang Tentara Angkatan Laut. Keras banget didikan mereka. Mereka gak pernah sedikitpun manjain gue, bahkan ketika mereka bisa. Mereka selalu ngajarin gue untuk hidup susah dan banyak bersyukur sama apa yang kita punya dihidup. Mereka juga gak pernah (apalagi) manjain gue dengan uang. Tapi kalian tahulah, pergaulan Jakarta serem cuy. Semua tentang uang dan kekuasaan. Gue juga orangnya banyak banget demandnya, pengen beli ini, beli itu, tapi gak mungkin dengan keadaan keluarga gue yang sangat tidak men-support gue untuk manja soal uang, untuk gue minta beliin ini itu ke nyokap atau bokap.

Dari situlah bermula, gue akhirnya memutuskan untuk berbisnis, semenjak kelas 1 SMP (umur berapa ya itu? hm…) gue sudah mulai membuat onlineshop kecil-kecilan untuk uang jajan tambahan dan Alhamdulillah ternyata berjalan dengan lancar. Pada saat itu di bulan pertama gue menghasilkan 25 juta pertamaku dari modal hanya 500 ribu yang diberikan Ayah. Nanti gue bakal sharing lebih lanjut ceritanya soal bisnis pertama gue hingga sekarang, ditulisanku yang berikutnya ya! Stay tuned!

Nah, entah kenapa seiring berjalannya waktu gue merasa bahwa gue lebih passionate di dunia bisnis ketimbang kedokteran. Seperti gak ada tekanan aja ketika gue melakukan bisnis. Lama-lama jadi kepikiran untuk berpindah haluan. Dan akhirnya gue memutuskan untuk memberanikan diri untuk ngomong ke nyokap dan bokap kalo gue mau masuk jurusan bisnis manajemen aja untuk kuliah gue. Dan yang mengejutkan adalah, mereka menyetujui setelah berdiskusi tak beberapa lama. Gue bilang ke mereka kalo menurut gue, gue gakaan bahagia kalo gue gak ngejalanin sesuatu yang bukan keinginan gue sendiri. Gue bilang sukses itu gak harus jadi dokter kok, masih banyak jalan lain untuk menuju kesuksesan. Dan mereka mengerti.

Lanjut ke step hidup gue dimana gue akhirnya masuk kuliah di Binus University jurusan Business Management, ehhh… gak lama diri gue viral secara tidak disengaja (jujur). Ini sebenernya another story sih nanti detailsnya ditulisan gue yang lain. So yeah, tiba-tiba gue akhirnya punya karir di dunia entertainment yang ternyata profitnya besar, diluar ekspektasi gue. Yang akhirnya mengharuskan gue untuk vakum kuliah dulu, karena keduanya bentrok dijadwal dan menurut gue, gue mau kejar dulu kesempatan yang ada di depan mata gue ini baru nanti gue kejar lagi pendidikan gue. Karena dulu gue mikirnya, ini masalah momentum, gue gak mungkin dikenal orang banyak lebih dari setahun. Ternyata dugaan gue salah HA HA HA. AwKarin is still a thing till now (kibas rambut).

So yeah, short story I got in really deep in this entertainment industry and decided to make my own start-ups. And I can say that it’s been going very well, Alhamdulillah. Setelah bertahun-tahun, banyak pencapaian dan segala pelajaran tentang pendewasaan diri yang gue dapet. Gue bersyukur banget bisa jadi diri gue yang sekarang ini dengan segala yang udah pernah gue lewatin. Sangat bersyukur. Mungkin berkat doa orang tua dan support orang-orang tedekat juga yang bisa bikin gue masih bertahan sampe sekarang. Banyak banget sih terpaan yang harus gue lewatin. Dan gue yakin gak akan hanya berhenti sampe di sini aja, gue yakin masih banyak cobaan lain yang bakal gue laluin kedepannya.

Seperti kata pepatah, “Semakin tinggi pohon kelapa, semakin besar angin yang menerjang”, tapi aku juga akan berpegang teguh sama satu pepatah ini, “Jadilah seperti padi, kian berisi kian merunduk”. InsyaAllah semua yang aku punya sekarang ini tidak akan pernah merubah seorang Karin Novilda yang dididik kedua orang tua yang super hebat.

Well, I don’t seem to have so much words on my mind right now, I think that’s all for now. I want you guys to know me as Karin Novilda, not AwKarin. I will try my best to write a page everyday hehe. Seneng deh kayanya gue nemuin my own coping mechanism on my mental breakdowns, is to write! It distracts my mind from overthinking everything. And maybe teruntuk kalian yang hatinya sedang gusar dan tidak damai kalian bisa coba deh cara yang gue coba ini, or maybe untuk kalian yang artist bisa nyoba to paint more often, untuk kalian yang suka nyanyi, try to do covers or make musics! Ya gak sih? Hehe.

Hope you had fun reading my first page of my blog. Dan maafkeun banget nih kalo masih banyak banget kurangnya, hehe I’m very new to this. But I’m really open to any kind of inputs! Thankyou so much for reading! Give me a feedback for my first writing on Twitter (@awkarin) or on my DM on Instagram (@awkarin, too HA.)

This is me Karin, logging off! Ciao!